Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kakek Rudapaksa Anak Kandung Sejak SD Hingga Hamil, Dua Cucu Hasil Perbuatannya Juga Di Rudal Paksa



Seorang pria berinisial AR alias OP (60) nekat merudapaksa anak kandungnya, bahkan juga 

cucunya.Kakek di Banggai, Sulawesi Tengah, itu akhirnya diringkus Polres 

Banggai.Tindakan bejat OP ini diungkap oleh Tim Buser Polres Banggai.Pihak kepolisian 

menangkap pelaku yang merupakan warga Kelurahan Mendoro, Kecamatan Kintom.


Dijelaskan oleh Kasat Reskrim Polres Banggai, AKP Pino Ary, AR yang bekerja sebagai 

petani itu sempat melakukan perlawanan.Bahkan, AR nekat menyerang polisi dengan badik 

tetapi polisi bisa mengatasinya hingga akhirnya AR menyerah."Badik itu diselipkan di 

pinggangnya. Tersangka ditangkap di salah satu rumah warga, yang diduga tempat 

persembunyiannya beberapa hari ini di Kelurahan Mendono, Kecamatan Kintom," kata 

Pino Ary seperti dikutip dari rilis Humas Polri.


Pengakapan itu dilakukan atas kasus dugaan pencabulan yang dilakukan kepada anaknya 

sendiri hingga melahirkan dua anak yang sekaligus menjadi cucunya.Kemudian, cucu dari 

hasil perbuatan bejatnya itu kembali dicabuli AR pada akhir tahun 2020.Mulanya, 

penangkapan AR ini atas laporan dari anak kandung pelaku berinisial FR yang melaporkan 

kejadian pencabulan anak di bawah umur.Kepada polisi, FR mengungkapkan kronologi 

terbongkarnya aksi pencabulan pelaku kepada anak perempuan dan cucunya sendiri.


Mulanya, perempuan 23 tahun itu berangkat ke Desa Ranga-ranga di Kecamatan Masama 

untuk menjenguk kakaknya yang sakit pada Kamis (31/12/2020).Tiba di sana, anak 

perempuan kakaknya berinisial RA (5) mengungkapkan bahwa anak tertua FR, berinisial 

AP (8) telah disetubuhi AR.Mendengar itu, FR langsung memanggil AP dan menanyakan 

kebenaran persoalan itu.


Saat didesak FR, anak sulungnya pun mengaku bahwa ia telah disetubuhi kakeknya sendiri 

pada November 2020 di wilayah Kelurahan Mendoni, Kecamatan Kintom.FR terkejut atas 

pengakuan AP, ia pun langsung curiga bahwa adik perempuannya juga menjadi korban sang 

ayah.FR lantas bertanya hal yang sama kepada adik kandungnya berinisial FI (10).Jawaban 

FI itu pun sama dengan yang diungkapkan oleh AP.


FI mengaku telah disetubuhi ayahnya sendiri saat berada di kebun Desa Ranga-ranga, 

Kecamatan Masama.Kepada penyidik, FR kemudian mengaku bahwa kejadian yang sama 

pernah dialaminya, sehingga ia langsung curiga bahwa adik dan anaknya juga menjadi 

korban AR.Ia mengungkapkan dirinya pernah jadi korban kebejatan AR, ayah kandungnya 

sendiri, sejak duduk di bangku kelas empat SD.


Perlakuan AR yang terus berlanjut dengan ancaman pembunuhan tak bisa 

dihindarinya."Saat itu, FR hanya bisa pasrah hingga ia melahirkan dua orang anak dari 

perbuatan ayahnya," beber Pino Ary.Lebih lanjut, Pino Ary menerangkan, FR dipaksa AR 

untuk mengaku bahwa anak itu lahir atas hubungan dengan orang lain kepada ibunya dan 

warga.Istri AR dan warga sekitar percaya dan hanya menyalahkan FR saat peristiwa itu 

terjadi.


"Namun, saat anak dan adiknya kembali dicabuli oleh korban pada 31 Desember 2020 

kemarin, FR tak bisa terima. Hingga akhirnya dirinya melaporkan kasus AR ke polisi pada 

tanggal 1 Januari 2021," ungkap Pino Ary.Residivis kasus yang sama hingga ancaman 

hukuman kebiriSaat ini AR telah mendekam di sel tahanan Polres Banggai dengan ancaman 

pasal 81 ayat 1 subs pasal 82 ayat 1 Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang 

perubahan atas Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.


Yang telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang nomor 17 tahun 2016 tentang 

penetapan Perppu nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-undang 

nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi undang-undang.Dalam kedua 

pasal itu menyebutkan AR terancam hukuman penjara paling singkat 5 tahun dan paling 

lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar.


“Pelaku juga merupakan residivis dengan kasus yang sama. Dulu korbannya juga anak 

kandung dari istri pertama,” papar AKP Pino.Selain ancaman hukuman itu, kata Pino Ary, 

tersangka bisa saja dikenakan hukuman kebiri.Pasalnya, belum lama ini Presiden RI Joko 

Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) nomor 70 tahun 2020 tentang 

hukuman kebiri untuk pelaku kekerasan terhadap anak.


PP ini mengatur tentang tata cara pelaksanaan tindakan kebiri kimia, pemasangan alat 

pendeteksi elektronik, rehabilitasi dan pengumuman identitas pelaku kekerasan seksual 

terhadap anak.“Terkait penggunaan pasal kebiri kita masih akan berkoordinasi dengan 

jaksa,” tutup Pino Ary.