Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

VIRAL Video Pria Bawa Jenazah Ibu Pakai Bronjong, Perekamnya Ketakutan, 'Itu Bawa Orang Ya, Astaga!'


Viral seorang pria asal Boyolali yang nekat membawa jenazah ibunya menggunakan bronjong di jok motor.

Dalam video yang beredar, terdengar percakapan seorang wanita yang mempertanyakan aksi pria pembawa jenazah.

"Iki gowo opo cobo, kok medeni banget lho, (ini bawa apa coba, menakutkan sekali)," ucapnya.

"Daerah simo gowo opo sih? (di daerah Simo bawa apa sih)," katanya lagi.

Tak berselang lama perkataan perempuan itu ditimpali suara laki-laki.

"Iki wong opo udu, astaga," ujarnya.

Kapolsek Banyudono, AKP Marjoko membenarkan kejadian pemotor membawa jenazah di atas beronjong yang diletakkan di jok belakang.

Kejadian itu bermula dari Sutejo, warga Dukuh Bantulan RT 03 RW 04 Kelurahan Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali merawat ibu kandungnya, Ginem di rumahnya.

Itu dilakukannya bersama istri dan kedua anaknya.

Ginem kemudian meninggal dunia pukul 08.00 WIB.

"Sutejo membawa jenazah menggunakan sepeda motor dengan memakai beronjong," kata Marjoko kepada ,(22/11/2020).

Marjoko mengatakan, pihaknya telah mencari tahu bagaimana fakta sebenarnya asal muasal Sutejo membawa jenazah ibunya.

Dari keterangan Perangkat Desa Jembungan, Suwardi, semula Sutejo bersama istri dan 2 anaknya merawat ibu kandungnya, Ginem, yang sakit di rumah.

Dari keterangan Sutejo, ia awalnya berencana memakamkan ibunya itu di pekarangan rumah.

Lalu, ia merasa jengkel karena dilarang warga memakamkan ibunya di pekarangan rumah.

Menurut Sutejo, warga beralasan ibunya bukan berasal dari desa tersebut.

Sutejo jengkel, kemudian membawa jenazah Ginem menggunakan sepeda motor dengan memakai bronjong.

Tujuannya, untuk dimakamkan pekarangan rumah keluarga yang berada di Desa Kedung Lengkong, Simo, Boyolali tempat kelahiran ibu Ginem.

Padahal, jarak rumah Sutejo dengan desa ibunya itu cukuo jauh, sekitar 10 kilometer.

Ia membawa jenazah itu di jalan raya di siang bolong.

Jenazah Ginem, ibunda Sutejo, akhirnya dimakamkan di pemakaman umum yang terletak di sana.

Kapolsek Banyudono AKP Marjoko meluruskan pernyataan Sutejo bila tetangga Sutejo di Desa Jembungan menolak rencananya memakamkan ibunya di sana.

Warga bahkan tak mengetahui bila ibu Sutejo meninggal.

Belakangan, warga menyebut bila Sutejo merupakan orang yang sangat tertutup pada warga.

Marjoko juga mengakui Sutejo sangat sulit diajak berkomunikasi.

"Tadi Perangkat Desa Jembungan meluruskan, tidak betul isu kalau ada penolakan dari warga. Mereka bahkan tidak tahu kalau ibu Sutejo meninggal, karena Sutejo itu orangnya tertutup dengan tetangga," kata Marjoko. 

Hanya dengan sepeda butut anak remaja ini mengantar sang ayah ke peristirahatan terakhirnya.

Bahkan untuk membawa jenazah ayahnya, anak laki-laki ini harus membungkusnya dengan sebuah karung.

Bukan tanpa alasan, rupanya seluruh warga desa memang sengaja mengucilkan keluarga anak ini.

Untuk itulah tak ada satu pun warga yang desa membantu pemakaman ayah dari remaja laki-laki tersebut.

Jangankan untuk membantu pemakaman, datang melayat pun enggan dilakukan oleh warga sekitar.